Tuesday, April 23, 2019

Penutupan Lokalisasi Prostitusi, Berakhir di Dolly


       

Sebagian besar di seluruh negara di kota-kota besar terdapat lokalisasi prostitusi. Tidak lain di Indonesia, siapa yang tidak kenal dengan kawasan Gang Dolly yang berada di sudut kota Surabaya, Jawa Timur.                                                                                                     
Gang Dolly atau lebih dikenal dengan nama Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi prostitusi yang terletak di Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di lokalisasi ini, wanita penghibur “dipajang” di dalam ruangan yang mana ruangan itu berdinding kaca mirip etalase.                             
Lokalisasi Gang Dolly ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bagaimana tidak, sedikitnya di Gang Dolly 9.000 lebih PSK (Pekerja Seks Komersial) didalam kawasan tersebut. Lokalisasi ini pun hampir menyelimuti seluruh jalan di kawasan itu. Tak sulit ditemukan pria hidung belang dari kalangan atas sampai bawah. Tidak hanya penduduk lokal saja, tetapi wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini sekadar untuk memuaskan birahi (nafsu). Contohnya para bule yang sering ada di Bali kerap datang ke Surabaya yaitu ke Gang Dolly untuk ‘mencoba’ wanita-wanita malam yang dijajakan. Bahkan dulu terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Kompleks lokalisasi Gang Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Pekerja Skes Komersial (PSK) berasal dari Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, dan Kalimantan. Bukan hanya bagi PSK, tetapi juga pemilik warung, penjual rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis mutualisme.                   
Bicara soal Gang Dolly, tak banyak yang mengerti dan tahu bagaimana sejarah lokalisasi ini berdiri sehingga bisa besar dan terkenal seperti sekarang. Sejarah mencatat, kawasan Gang Dolly dahulu adalah tempat pemakaman warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman ini disulap oleh seorang Noni Belanda bernama Dolly Van Der Mart. sebagai tempat prostitusi khusus bagi para tentara negeri kincir angin itu. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada hingga kini tetapi sudah tidak meneruskan maupun mengelola bisnis ini.
Sebagai pencetus komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya maka perempuan dengan sebutan tante Dolly kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal muasal terbentuknya Gang lokalisasi prostitusi tersebut. Dalam beberapa kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik perhatian para tentara untuk datang kembali. Dalam perkembangannya, Gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.                              
Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Terdapat lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut dan panti pijat plus yang berjejer rapi. Setidaknya setiap malam penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada para pengunjung.                                                      
Yang membuat lokasi prostitusi ini menjadi menarik, salah satunya dari cara para pekerja menjajakan dirinya. Layaknya manekin, para PSK seakan memajang dirinya di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase. Dengan begitu, para konsumen bisa dengan leluasa memilih siapa yang ingin 'menemani' mereka.                                                 
Kisah lain tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku berjudul "Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu disebutkan dulu kawasan Gang Dolly merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.
Baru sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Makam China itu tertutup bagi jenazah baru, dan kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.      
Setahun kemudian, 1967, muncul wanita bernama Dolly Khavit, Ia adalah mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di jalan yang sekarang bernama Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain bernama T, Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain. Demikian asal muasal nama Dolly.                              
Dolly semakin berkembang pada era tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan di sana semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian Jalan Jarak. Mendirikan rumah bordil di jalan yang kemudian bernama Kupang Gunung Timur I. Rumah bordil itu terkenal, salah satunya karena faktor Tante Dolly yang memicu rasa penasaran lelaki pecinta layanan seksual. Setelah tempat Tante Dolly sukses, banyak orang lain juga mendirikan layanan serupa di sekitar daerah itu. Lambat laun jumlahnya semakin marak sehingga menjadi kawasan lampu merah yang terkenal dengan sebutan Gang Dolly.
Sosok Dolly memang seperti legenda. Legenda dalam dunia persyahwatan di Surabaya. Sohor, tetapi jarang sekali bisa dijumpai. Orang kerap berasumsi ia adalah seorang germo, perempuan, keturunan Belanda. Ada yang bilang namanya Dolly van der Mart. Desas-desus lain menyebutkan dia sebenarnya seorang lelaki. Siapa yang pertama melayangkan protes? Ya, Dolly sendiri. "Kenapa kok (pakai) namaku? Padahal germo di sana kan banyak?" tanyanya pada tahun 1990-an.    
 Sebab sebagai germo panggilannya bukan "Mami" tetapi "Papi Dolly". Benarkah?. Lalu?. Jadi, siapa sebetulnya Dolly? Dolly adalah nama panggilan. Nama lengkapnya Advenso Dollyres Chavit. Chavit adalah nama ayahnya, seorang Filipina. Ibunya bernama Herliah, orang Jawa. Dolly lahir sekitar tahun 1929.                                                   
"Aku ini hanya sekolah mindho (level SMP). Itu pun tidak tamat karena ada perang. Ibuku pun bukan orang yang mampu. Maka hidupku biasa-biasa saja, tidak ada peningkatan," tutur Dolly kepada Bambang Andrias, kontributor Majalah Jakarta-Jakarta, 27 tahun silam. Dolly mengenang kehidupan keluarganya yang cukup relejius. "Orang tua mendidikku untuk sering ke geraja. Pokoknya harus selalu ingat Tuhan," tambahnya. Namun entah kenapa perangai Dolly di luaran menjadi sungguh berbeda. Dolly yang tomboi cenderung memberontak. "Umur 16 tahun aku mulai merokok. Waktu itu (rokok) yang terkenal Escort, Commodore atau Kansas," kenangnya. Perempuan merokok bukanlah hal umum pada masa itu. Dolly boleh tomboi. Tetapi itu tak menutupi kecantikannya. Sambil menunjuk foto masa muda, Dolly berkisah betapa seksi dia, diiringi tawa terkekeh-kekeh. Menjelang umur 20, Dolly menikah dengan Soukup alias Yakup, seorang kelasi Belanda.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi salah satu aktor utama yang ingin jika tempat-tempat lokalisasi di kawasan Surabaya ditutup. Sejak 19 Juni 2014 lalu kawasan tersebut telah resmi ditutup. Alasannya, lokalisasi selalu menjadi muara kasus human trafficking yang kian menjadi akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya banyak yang menyangsikan realisasi penutupan itu. Memang, dibutuhkan keberanian untuk merevolusi kota ini beserta masalah sosialnya, terutama prostitusi. Dan juga Dolly diyakini menjadi salah satu penyumbang APBD terbesar setiap bulannya bagi pemerintah Surabaya, berkisar hingga puluhan miliar rupiah, uang yang masuk dari praktik haram itu ke pemerintah daerah Surabaya.
Wali kota-wali kota sebelumnya tahu betul soal Dolly dan masalahnya. Tak heran, rencana penutupan terus menyeruak. Namun tak ada yang mampu merealisasikan. Entah karena memang cuma rencana demi kepentingan tertentu atau karena faktor lain. Risma, wali kota perempuan Surabaya, berbeda. Ia melihat lokalisasi lebih utuh. Mulai dari masalah ekonomi, pengaruh sosial, hingga eksploitasi perempuan. Maka itu, ia mantap menutup kawasan tersebut. Apapun bakal ia hadapi. Apapun ia pertaruhkan, termasuk nyawa.


"Saya memang saya sudah ikhlas (mati)," kata Risma saat itu, Kamis (19/6/2014). Massa pro Dolly bergolak. Mereka yang mengatasnamakan Front Pekerja Lokalisasi (FPL) berunjuk rasa dan memblokir gang-gang di sekitar lokaliasi. Pada saat bersamaan, 91 PSK dan mucikari membaca deklarasi di gedung Islamic Center. Dengan lantang, mereka menyatakan:
Kami warga masyarakat Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, berkeinginanagar:
1. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang bersih, sehat, aman, tertib, dan bebas dari lokalisasi prostitusi.          
2. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang bermartabat dengan membangun usaha perekonomian yang sesuai dengan tuntunan agama dan peraturan yang berlaku       
3. Kami memohon kepada aparat berwenang untuk menindak secara tegas para pelaku kejahatan perdagangan orang, perbuatan asusila, dan penggunaan bangunan untuk perbuatan maksiat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.   
4. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang maju, aman, dan tertib, dengan bimbingan dan perhatian aparat keamanan dan Pemkot Surabaya, Pemprov Jatim, dan pemerintah pusat.
Sejak naskah itu selesai dibacakan, lokalisasi Dolly resmi ditutup. Orang yang berbuat asusila di kawasan itu akan diproses hukum. Perlahan tapi pasti, penghuni hengkang. "Proses untuk membebaskan Dolly dari prostitusi menjadi sejarah bangsa ini. Ini tanggung jawab kita bersama," kata Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya, Supomo, kepada detikcom, Sabtu (13/6/2015). Ya, penutupan Dolly adalah sejarah. Berkat keberanian Risma dan dukungan dari berbagai pihak, hal itu terlaksana. Kini, perubahan tengah terjadi di kawasan eks lokalisasi Dolly.
Kawasan di sekitaran eks lokalisasi Dolly nampaknya masih seksi bagi para pria hidung belang untuk melakukan transaksi bisnis esek-esek. Transaksi esek-esek di sekitaran kawasan eks lokalisas Dolly itu baru-baru ini terbongkar ketika anggota Polsek Sawahan menangkap germo PSK di Jalan Jarak.                                  
Polisi menangkap seorang pria yang diduga jadi mucikari itu pada Selasa (8/4/2019). Pelaku penjaja PSK di lokasi kawasan eks lokalisasi Jarak dan Dolly itu adalah Muji alias Jimy. Ia tercatat sebagai warga Jalan Lombok, Dusun Jaruman 01/04, Desa Godean, Loceret, Nganjuk. Di Surabaya, ia tinggal indekos di Jalan Kupang Gunung Timur Surabaya.
            Kapolsek Sawahan Kompol Dwi Eko Budi Sulistyono mengatakan, modus tersangka menjajakan PSK, dengan menawarkan langsung kepada target pengguna jasa esek-esek. "Dia cari dulu pelanggannya, di tawarkan ke beberapa rekannya atau orang lain yang dikenalinya," katanya pada TribunJatim.com, Rabu (10/4/2019).                       
Tersangka menawarkan kepada calon pengguna jasa seharga Rp 250 Ribu untuk sekali kencan. "Lalu deal-dealan harga dengan harga segitu, usai dilakukan pembayaran, lalu si pelanggan di ajak ke rumah tersebut, dan PSK-nya di ajak masuk," jelasnya. Menurut Dwi Eko, pelaku baru sekali menjalankan bisnis lendir tersebut. Namun, pihaknya masih meragukan keterangan pelaku, karena ada dugaan pelaku merupakan pemain lama dalam bisnis esek-esek terselubung itu. "Ngakunya baru sekali. Kini penyelidikan masih terus berlanjut ada dugaan dia orang lama dalam bisnis ini," tandasnya.
Sabtu (13/04/2019), mahasiswa semester dua Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) yang terdiri dari 135 mahasiswa mengikuti kuliah lapangan yang merupakan agenda dari mata kuliah Ilmu Dakwah yang diampu oleh Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M. Ag, bertemakan “Dakwah Kontemprorer dan Enterpreneurship” bertempat di Masjid At-Taubah yaitu di jalan Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya.            
Kenapa bertempat di Masjid At-Taubah? karena merupakan tempat bersejarah perjuangan penutupan eks lokalisasi Gang Dolly. Dan pastinya terdapat orang-orang yang berperan penting yaitu Abah Petrok, beliau merupakan takmir Masjid At-Taubah, beliau bercerita tentang Masjid ini. Dahulunya tahun 1987 masih menjadi musholla yang bernama Al-Huda. 17 Februari 1989 diadakan khutbah pertama di Masjid ini dan masih mempunyai satu lantai. Semakin berjalannya waktu sekarang sudah menjadi Masjid yang mempunyai dua lantai. Abah Petrok melakukan dakwah melalui doa atau disebut dengan non medis. Contohnya Abah Petrok menangani orang yang kesurupan maupun terkena santet. Jadi Pak Petrok sering keluar masuk kamar wisma di Gang Dolly untuk membantu dengan dakwah melalui non medis. Abah Petrok sudah melakukan dakwah atau menjadi seorang da’i selama 24 tahun sampai dengan penutupan Dolly pada  tahun 2014. Abah Petrok juga bergabung dengan Dinas Sosial dan Forkemas (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya) pada tahun 2002 . “Jika Allah berfirman tidak akan dholim, saya yakin Allah akan menjabah apa yang kita inginkan tetapi tidak akan isntan memang” Ujar kata  takmir Masjid yang di sapa Pak Petrok itu.                                                                       
  Rangkaian kegiatan kuliah lapangan diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan dilanjut dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tidak lupa sambutan yang diberikan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Beliau berpesan bahwa berdakwah tidak dilakukan dengan metode ceramah saja, tetapi bisa dengan berbagai metode sesuai dengan keadaan mitra dakwah. Beliau juga menyampaikan suatu nasihat bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang instan semua membutuhkan waktu, jadi kita harus menunggu dan sabar ketika ingin memperoleh hasil yang maksmimal.               
Dilanjut dengan empat pemateri yang juga ikut berperan penting dalam penutupan eks lokalisasi Dolly dan 46 titik lokalisasi yang ada di Jawa Timur.                 


           
H. Sunarto Sholahudin (Owner PT. Berkah Aneka Laut, bendahara umum Masjid anurul Fattah Surabaya). Beliau berasal dari Gresik. Beliau berpesan kepada mahasiswa jika menjadi laki-laki harus menjadi pemimpin yang tegas dan beliau menceritakan tentang perjalanan hidupnya sampai sukses seperti sekarang ini. Sebelum sukses beliau hanya seseorang yang berasal dari keluarga serba kekurangan. Beliau mempunyai tekad yang besar dalam meraih kesuksesan untuk membantu keluarganya. Dengan tekad yang besar membawanya ke Surabaya dengan melakukan segala hal untuk meraih kesuksesan, dahulu impian beliau adalah menjadi seorang pengusaha. Jika ingin menjadi orang yang sukses harus adanya motivasi dari dalam diri, dan  yang paling penting adalah kejujuran yang merupakan modal utama untuk meraih kesuksesan dengan menjadi seorang pengusaha. Selain takdir dari Allah harus tetap fokus yaitu dengan kejujuran pasti mendapatkan kesuksesan. Membantu orang lain dari keterpurukan yaitu menciptakan lapangan pekerjaan itulah prinsip yang dikatakan oleh Pak Sunarto Sholahudin.
Dr. H. A. Sunarto AS, MEI yang merupakan doktor prostitusi dan tergabung dalam Ikatan Da’i Lokalisasi (IDEAL) MUI Jawa Timur. Beliau menceritakan tentang perjalanan dakwahnya. “Dakwah tidak hanya omong doang, tapi juga merubah lokalisasi Surabaya menjadi kota santri se Jawa Timur. Melakukan dakwah secara individual hasilnya tidak akan maksimal dan tidak optimal maka dari itu saya membangun jejaring atau kerjasama yang dinakan dengan dakwah kelembagaan.” ujar beliau dengan suara lantang. Beliau membentuk Forkemas yang diresmikan pada tahun 2002 dan  menjadi ketua Umum dalam Forkemas tersebut. Pada tahun 1980-2002 melakukan dakwah secara individu dengan metode ceramah di balai RW sekitar 200 orang WTS (Wanita Tanpa Susila) yang datang. Pada tahun 2002-2010 beliau beserta Forkemas melakukan dakwah secara kelembagaan, untuk membina para WTS  dengan dakwah secara kelembagaan ada yang mengajak, menyeru, dan memanggil untuk beriman dan taat kepada Allah.                                    
WTS melakukan pekerjaan ini karena merupakan pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan uang, Hasil pengamatan beliau, satu orang bisa melayani 15 laki-laki. Sekali tidur bisa berkisar Rp. 200.000,00 bayangkan itu didapatkan hanya dengan sehari, berapa jika sebulan?. Sebagai da’i kita harus merubah menset WTS dengan melewati sentuhan mental dan spiritual (fisik dan rohani) yang memang membutuhkan proses yang panjang. Beliau berusaha menutup Dolly sekitar 32 tahun dari tahun 1980-2014. Beliau telah membantu WTS dengan cara diasramakan terlebih dahulu dan dilatih keterampilanya sesuai keinginan mereka contohnya: menjahit, merias, dan memasak. Jika mereka berhenti menjadi WTS  agar tidak kembali dengan melakukan hal menjadi seorang WTS lagi. Beliau menggunakan tiga metode dalam berdakwah yang pertama, yaitu metode Integral dimana dakwah dilakukan secara menyeluruh yaitu dengan bimbingan fisik dan rohani. Yang kedua, metode persuasif yaitu dengan pendekatan manusia yang mana kita tidak boleh merendahkan mereka tetapi dengan cara merangkul mereka. Yang ketiga, yaitu metode Solutif yaitu memberikan solusi tidak hanya perkataan saha tetapi juga dengan mendapatkan jalan keluar. Dengan ketiga metode itulah demikian 47 lokalisasi di Jawa Timur ditutup dengan total. “Tetapi ingat dilakukan dengan kerjasama dengan tim, tidak sendiri.” ucap beliau.
Pemateri selanjutnya yaitu K.H. Drs. Khoiron Syuaib (Kiai Prostitusi) Ia bercerita tentang peranan orang-orang dalam eks lokalisasi Gang Dolly. Pertama, yang mempunyai peranan penting di eks lokalisasi yaitu PSK atau WTS, yang kedua Mucikari atau germo yang menurut Pak Khoirun kependekan dari “seneng mangan sego, nyambut gawe emoh”. Mucikari menganggap bahwa PSK adalah daganganya. Seorang PSK yang berasal dari desa dengan wajah yang tidak terawat dengan baik, mereka akan dibelikan alat make up dan juga pakaian untuk membenahi dirinya agar terlihat menawan dihadapan pelangganya.   Demo yang paling banyak pada saat penutupan eks lokalisasi yaitu dari mucikari. Kata salah satu mucikari tersebut “Pak Ustadz daripada mereka nganggur tak ke’i penggawean”, yang artinya daripada tidak mempunyai pekerjaan lebih baik menjadi PSK saja. Selanjutnya yang mempunyai peranan secara formal yaitu ketua RW yang merupakan tokoh masyarakat, “jika pada saat malam mereka akan mendapat indehoy.” ujar ustadz Khoiron. Tokoh secara nonformal yaitu preman yang membantu para mucikari dan melayani pelanggan mereka dengan baik untuk dipilihkan kepada para PSK. Selanjutnya ada tokoh masyarakat baik yaitu orang yang berdagang disekitar eks lokalisasi mereka protes jika Dolly tutup karena pasti dagangan mereka tidak laku. Dakwah beliau melalui metode ceramah di balai RW. Beliau membawa suasana seorang WTS dalam keadaan  gelap menuju terang benderang. Beliau mengajak orang-orang yang tenggelam dalam kegelapan selama masih hidup mereka masih mempunyai harapan yang namanya tobat. “Prostitusi sampai akhir zaman tidak akan selesai selama setan masih hidup tetapi, yang ada di lokalisasi harus diselesaikan. Jangan hanya berdakwah dimasjid maupun marasah saja, tetapi jangan lupa bahwa orang-orang yang diluar itu juga membutuhkan sentuhan kita sebagai da’i.” ujarnya.             
H. Gatot Subiantoro Mantan preman namun sekarang sudah hijrah yang mempunyai prinsip “Orang miskin gaada habisnya, orang kaya gaada habisnya, tetapi umur kita ada habisnya.” Dari 47 lokalisasi beliau mengenal semua premannya. Dakwah bisa dilakukan dimana-mana, tetangga kita masih membutuhkan dakwah kita. Ada pertanyaan dari salah satu mahasiswi KPI semester dua yaitu, apa motivasi beliau untuk berhijrah katanya, dan beliau menjawab “tiap hari yang lainya bawa berkatan, lalu saya diberi dan gara-gara berkat itu lama-lama saya insaf” jawab beliau dengan tertawa terbahak-bahak yang dapat mencairkan suasana. Beliau pun ditugaskan menjadi Tim Keamanan Idul Qurban dan juga menjadi ketua dalam acara 17 agustusan, ustadz-ustatdz tidak pernah menyuruh sholat tetapi dengan dakwah secara halus dan membimbing.“Jika tidak ada ustadz-ustadz ini mungkin saya tetap mendem (minum-minum), kalau gumbul kiyai dadi kiyai, gumbul malig dadi maling.” katanya dengan berbicara sambil tertawa.                              

Kesan Penulis dalam kegiatan Kuliah Lapangan
1.      Hal pertama yang ingin saya sampaikan ketika pelaksanaan kuliah lapangan ini adalah ucapan syukur karena dapat menambah semangat dalam menjalani hidup dari inspirasi yang diberikan melalui pengalaman hidup dari masing-masing narasumber.  
2.      Dengan kegiatan Kuliah Lapangan ini banyak memberikan informasi dan wawasan kepada penulis mengenai ruang lingkup Gang Dolly, dan seluk beluk Gang Dolly secara nyata dan langsung terjun lapangan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
3.      Memperkaya wawasan yang berkaitan langsung tentang Enterpreneurship bahwa untuk menjadi seorang penguasaha yang sukses, seperti yang Pak H. Sunarto Sholahudin bahwa selain takdir dari Allah, kita harus tetap fokus yaitu dengan kejujuran, dengan kejujuran pasti akan mendapatkan kesuksesan. Membantu orang lain dari keterpurukan yaitu dengan menciptakan lapangan pekerjaan.
4.      berdakwah tidak dilakukan dengan metode ceramah saja, tetapi bisa dengan berbagai metode sesuai dengan keadaan mitra dakwah. Contohnya seperti yang dilakukan Ustadz Khoiron kepada pak Gatot, beliau menggunakan metode pendekatan kepada pak Gatot dengan cara memberi pak Gatot (mantan preman) berkat yang diperoleh dari sepulang pengajian.
5.   Bahwa dalam menjalani hidup, segala sesuatu itu tidak ada yang instan semua membutuhkan waktu, jadi kita harus menunggu dan sabar ketika ingin memperoleh hasil yang maksmimal.
6.      Melakukan dakwah secara individual hasilnya tidak akan maksimal dan tidak optimal maka dari itu kita pintar-pintar dalam membangun jejaring atau kerjasama yang dinamakan dengan dakwah kelembagaan. dengan dakwah secara kelembagaan ada yang mengajak, menyeru, dan memanggil untuk beriman dan taat kepada Allah.

No comments:

Post a Comment