Penutupan
Lokalisasi Prostitusi, Berakhir di Dolly
Sebagian besar di seluruh negara di kota-kota
besar terdapat lokalisasi prostitusi. Tidak lain di Indonesia, siapa yang tidak
kenal dengan kawasan Gang Dolly yang berada di sudut kota Surabaya, Jawa Timur.
Gang Dolly atau lebih dikenal dengan nama Dolly
adalah nama sebuah kawasan lokalisasi prostitusi yang terletak di Jarak, Pasar
Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di lokalisasi ini, wanita
penghibur “dipajang” di dalam ruangan yang mana ruangan itu berdinding kaca
mirip etalase.
Lokalisasi Gang Dolly ini adalah yang terbesar di
Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di
Singapura. Bagaimana tidak, sedikitnya di Gang Dolly 9.000 lebih PSK (Pekerja
Seks Komersial) didalam kawasan tersebut. Lokalisasi ini pun hampir menyelimuti
seluruh jalan di kawasan itu. Tak sulit ditemukan pria hidung belang dari
kalangan atas sampai bawah. Tidak hanya penduduk lokal saja, tetapi wisatawan
asing pun tak jarang datang ke sini sekadar untuk memuaskan birahi (nafsu).
Contohnya para bule yang sering ada di Bali kerap datang ke Surabaya yaitu ke Gang
Dolly untuk ‘mencoba’ wanita-wanita malam yang dijajakan. Bahkan dulu terjadi
kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata
Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Kompleks lokalisasi Gang Dolly menjadi sumber
rezeki bagi banyak pihak. Pekerja Skes Komersial (PSK) berasal dari Semarang,
Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, dan Kalimantan. Bukan hanya bagi PSK,
tetapi juga pemilik warung, penjual rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan
tukang becak. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis mutualisme.
Bicara soal Gang Dolly, tak banyak yang mengerti
dan tahu bagaimana sejarah lokalisasi ini berdiri sehingga bisa besar dan
terkenal seperti sekarang. Sejarah mencatat, kawasan Gang Dolly dahulu adalah
tempat pemakaman warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman
ini disulap oleh seorang Noni Belanda bernama Dolly Van Der Mart. sebagai
tempat prostitusi khusus bagi para tentara negeri kincir angin itu. Bahkan
keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada hingga kini tetapi sudah
tidak meneruskan maupun mengelola bisnis ini.
Sebagai pencetus komplek lokalisasi di Jalan
Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya maka perempuan dengan
sebutan tante Dolly kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda tentang asal
muasal terbentuknya Gang lokalisasi prostitusi tersebut. Dalam beberapa kisah tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya tante
Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial.
Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu,
ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut mampu menarik
perhatian para tentara untuk datang kembali. Dalam perkembangannya, Gang Dolly
semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang
berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga
ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut berpengaruh kepada
kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.
Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran
hidup bagi penduduk di sana. Terdapat lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe
dangdut dan panti pijat plus yang berjejer rapi. Setidaknya setiap malam penjaja
cinta, pelacur di bawah umur, germo, ahli pijat siap menawarkan layanan
kenikmatan kepada para pengunjung.
Yang membuat lokasi prostitusi ini menjadi menarik,
salah satunya dari cara para pekerja menjajakan dirinya. Layaknya manekin, para
PSK seakan memajang dirinya di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase.
Dengan begitu, para konsumen bisa dengan leluasa memilih siapa yang ingin
'menemani' mereka.
Kisah lain tentang Dolly juga pernah ditulis Tjahjo
Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku berjudul "Dolly: Membedah Dunia
Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly" yang diterbitkan
Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu disebutkan dulu kawasan Gang Dolly
merupakan makam Tionghoa, meliputi wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam
Islam di Putat Gede.
Baru sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu
pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Makam China itu
tertutup bagi jenazah baru, dan
kerangka lama harus dipindah oleh ahli warisnya. Ini mengundang orang
mendapatkan tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan makam,
menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.
Setahun kemudian, 1967, muncul wanita bernama
Dolly Khavit, Ia adalah mantan pelacur berdarah Jawa-Filipina. Dia kemudian
menikah dengan pelaut Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di jalan yang
sekarang bernama Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain bernama T,
Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain.
Demikian asal muasal nama Dolly.
Dolly semakin berkembang pada era tahun 1968 dan 1969.
Wisma-wisma yang didirikan di sana semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai
dari sisi jalan sebelah barat, lalu meluas ke timur hingga mencapai sebagian
Jalan Jarak. Mendirikan rumah bordil di jalan yang kemudian bernama
Kupang Gunung Timur I. Rumah bordil itu terkenal, salah satunya karena faktor
Tante Dolly yang memicu rasa penasaran lelaki pecinta layanan seksual. Setelah
tempat Tante Dolly sukses, banyak orang lain juga mendirikan layanan serupa di
sekitar daerah itu. Lambat laun jumlahnya semakin marak sehingga menjadi kawasan
lampu merah yang terkenal dengan sebutan Gang Dolly.
Sosok Dolly memang seperti legenda. Legenda dalam
dunia persyahwatan di Surabaya. Sohor, tetapi jarang sekali bisa dijumpai.
Orang kerap berasumsi ia adalah seorang germo, perempuan, keturunan Belanda.
Ada yang bilang namanya Dolly van der Mart. Desas-desus lain menyebutkan dia
sebenarnya seorang lelaki. Siapa yang pertama melayangkan protes? Ya, Dolly
sendiri. "Kenapa kok (pakai) namaku? Padahal germo di sana kan
banyak?" tanyanya pada tahun 1990-an.
Sebab
sebagai germo panggilannya bukan "Mami" tetapi "Papi
Dolly". Benarkah?. Lalu?. Jadi, siapa sebetulnya Dolly? Dolly adalah nama
panggilan. Nama lengkapnya Advenso Dollyres Chavit. Chavit adalah nama ayahnya,
seorang Filipina. Ibunya bernama Herliah, orang Jawa. Dolly lahir sekitar tahun
1929.
"Aku ini hanya sekolah mindho (level SMP).
Itu pun tidak tamat karena ada perang. Ibuku pun bukan orang yang mampu. Maka
hidupku biasa-biasa saja, tidak ada peningkatan," tutur Dolly kepada
Bambang Andrias, kontributor Majalah Jakarta-Jakarta, 27 tahun silam.
Dolly mengenang kehidupan keluarganya yang cukup relejius. "Orang tua
mendidikku untuk sering ke geraja. Pokoknya harus selalu ingat Tuhan,"
tambahnya. Namun entah kenapa perangai Dolly di luaran menjadi sungguh berbeda.
Dolly yang tomboi cenderung memberontak. "Umur 16 tahun aku mulai merokok.
Waktu itu (rokok) yang terkenal Escort, Commodore atau Kansas," kenangnya.
Perempuan merokok bukanlah hal umum pada masa itu. Dolly boleh tomboi.
Tetapi itu tak menutupi kecantikannya. Sambil menunjuk foto masa muda, Dolly
berkisah betapa seksi dia, diiringi tawa terkekeh-kekeh. Menjelang umur 20,
Dolly menikah dengan Soukup alias Yakup, seorang kelasi Belanda.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi salah
satu aktor utama yang ingin jika tempat-tempat lokalisasi di kawasan Surabaya
ditutup. Sejak 19 Juni 2014 lalu kawasan tersebut telah resmi ditutup.
Alasannya, lokalisasi selalu menjadi muara kasus human trafficking yang kian
menjadi akhir-akhir ini. Padahal sebelumnya banyak yang
menyangsikan realisasi penutupan itu. Memang, dibutuhkan keberanian untuk
merevolusi kota ini beserta masalah sosialnya, terutama prostitusi. Dan juga Dolly diyakini menjadi salah satu penyumbang
APBD terbesar setiap bulannya bagi pemerintah Surabaya, berkisar hingga puluhan
miliar rupiah, uang yang masuk dari praktik haram itu ke pemerintah
daerah Surabaya.
Wali kota-wali kota sebelumnya tahu betul soal Dolly dan
masalahnya. Tak heran, rencana penutupan terus menyeruak. Namun tak ada yang
mampu merealisasikan. Entah karena memang cuma rencana demi kepentingan
tertentu atau karena faktor lain. Risma, wali
kota perempuan Surabaya, berbeda. Ia melihat lokalisasi lebih utuh. Mulai dari
masalah ekonomi, pengaruh sosial, hingga eksploitasi perempuan. Maka itu, ia
mantap menutup kawasan tersebut. Apapun bakal ia hadapi. Apapun ia pertaruhkan,
termasuk nyawa.
"Saya memang saya sudah ikhlas (mati),"
kata Risma saat itu, Kamis (19/6/2014). Massa pro Dolly bergolak. Mereka yang mengatasnamakan
Front Pekerja Lokalisasi (FPL) berunjuk rasa dan memblokir gang-gang di sekitar
lokaliasi. Pada saat bersamaan, 91 PSK dan mucikari membaca deklarasi di gedung
Islamic Center. Dengan lantang, mereka menyatakan:
Kami warga masyarakat Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, berkeinginanagar:
1. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang bersih, sehat, aman, tertib, dan bebas dari lokalisasi prostitusi.
2. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang bermartabat dengan membangun usaha perekonomian yang sesuai dengan tuntunan agama dan peraturan yang berlaku
3. Kami memohon kepada aparat berwenang untuk menindak secara tegas para pelaku kejahatan perdagangan orang, perbuatan asusila, dan penggunaan bangunan untuk perbuatan maksiat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang maju, aman, dan tertib, dengan bimbingan dan perhatian aparat keamanan dan Pemkot Surabaya, Pemprov Jatim, dan pemerintah pusat.
Kami warga masyarakat Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, berkeinginanagar:
1. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang bersih, sehat, aman, tertib, dan bebas dari lokalisasi prostitusi.
2. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang bermartabat dengan membangun usaha perekonomian yang sesuai dengan tuntunan agama dan peraturan yang berlaku
3. Kami memohon kepada aparat berwenang untuk menindak secara tegas para pelaku kejahatan perdagangan orang, perbuatan asusila, dan penggunaan bangunan untuk perbuatan maksiat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menjadi wilayah yang maju, aman, dan tertib, dengan bimbingan dan perhatian aparat keamanan dan Pemkot Surabaya, Pemprov Jatim, dan pemerintah pusat.
Sejak naskah itu selesai dibacakan, lokalisasi
Dolly resmi ditutup. Orang yang berbuat asusila di kawasan itu akan diproses
hukum. Perlahan tapi pasti, penghuni hengkang. "Proses untuk membebaskan Dolly dari prostitusi
menjadi sejarah bangsa ini. Ini tanggung jawab kita bersama," kata Kepala
Dinas Sosial Kota Surabaya, Supomo, kepada detikcom, Sabtu (13/6/2015). Ya,
penutupan Dolly adalah sejarah. Berkat keberanian Risma dan dukungan dari
berbagai pihak, hal itu terlaksana. Kini, perubahan tengah terjadi di kawasan
eks lokalisasi Dolly.
Kawasan di sekitaran eks lokalisasi Dolly
nampaknya masih seksi bagi para pria hidung belang untuk melakukan transaksi
bisnis esek-esek. Transaksi esek-esek di sekitaran kawasan eks lokalisas Dolly
itu baru-baru ini terbongkar ketika anggota Polsek Sawahan menangkap germo PSK
di Jalan Jarak.
Polisi menangkap seorang pria yang diduga jadi
mucikari itu pada Selasa (8/4/2019). Pelaku penjaja PSK di lokasi kawasan eks
lokalisasi Jarak dan Dolly itu adalah Muji alias Jimy. Ia tercatat sebagai
warga Jalan Lombok, Dusun Jaruman 01/04, Desa Godean, Loceret, Nganjuk.
Di Surabaya, ia tinggal indekos di Jalan Kupang Gunung Timur Surabaya.
Kapolsek
Sawahan Kompol Dwi Eko Budi Sulistyono mengatakan, modus tersangka
menjajakan PSK,
dengan menawarkan langsung kepada target pengguna jasa esek-esek. "Dia
cari dulu pelanggannya, di tawarkan ke beberapa rekannya atau orang lain yang
dikenalinya," katanya pada TribunJatim.com, Rabu (10/4/2019).
Tersangka menawarkan kepada calon pengguna jasa
seharga Rp 250 Ribu untuk sekali kencan. "Lalu deal-dealan harga dengan
harga segitu, usai dilakukan pembayaran, lalu si pelanggan di ajak ke rumah
tersebut, dan PSK-nya di ajak masuk," jelasnya. Menurut Dwi Eko, pelaku
baru sekali menjalankan bisnis lendir tersebut. Namun, pihaknya masih meragukan
keterangan pelaku, karena ada dugaan pelaku merupakan pemain lama dalam bisnis
esek-esek terselubung itu. "Ngakunya baru sekali. Kini penyelidikan masih
terus berlanjut ada dugaan dia orang lama dalam bisnis ini," tandasnya.
Sabtu (13/04/2019), mahasiswa semester dua Program
Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan
Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) yang
terdiri dari 135 mahasiswa mengikuti kuliah lapangan yang merupakan agenda dari mata kuliah Ilmu Dakwah yang
diampu oleh Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M. Ag, bertemakan
“Dakwah Kontemprorer dan Enterpreneurship” bertempat di Masjid At-Taubah yaitu
di jalan Kupang Gunung Timur VII B/141 Surabaya.
Kenapa bertempat di Masjid At-Taubah? karena merupakan
tempat bersejarah perjuangan penutupan eks lokalisasi Gang Dolly. Dan pastinya terdapat
orang-orang yang berperan penting yaitu Abah Petrok, beliau merupakan takmir
Masjid At-Taubah, beliau bercerita tentang Masjid ini. Dahulunya tahun 1987
masih menjadi musholla yang bernama Al-Huda. 17 Februari 1989 diadakan khutbah
pertama di Masjid ini dan masih mempunyai satu lantai. Semakin berjalannya
waktu sekarang sudah menjadi Masjid yang mempunyai dua lantai. Abah Petrok
melakukan dakwah melalui doa atau disebut dengan non medis. Contohnya Abah
Petrok menangani orang yang kesurupan maupun terkena santet. Jadi Pak Petrok
sering keluar masuk kamar wisma di Gang Dolly untuk membantu dengan dakwah
melalui non medis. Abah Petrok sudah melakukan dakwah atau menjadi seorang da’i
selama 24 tahun sampai dengan penutupan Dolly pada tahun 2014. Abah Petrok juga bergabung dengan
Dinas Sosial dan Forkemas (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya) pada
tahun 2002 . “Jika Allah berfirman tidak akan dholim, saya yakin Allah akan
menjabah apa yang kita inginkan tetapi tidak akan isntan memang” Ujar kata takmir Masjid yang di sapa Pak Petrok itu.
Rangkaian
kegiatan kuliah lapangan diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci
Al-Qur’an, dan dilanjut dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Tidak lupa sambutan yang diberikan oleh Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. Beliau
berpesan bahwa berdakwah tidak dilakukan dengan metode ceramah saja, tetapi
bisa dengan berbagai metode sesuai dengan keadaan mitra dakwah. Beliau juga
menyampaikan suatu nasihat bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang instan semua
membutuhkan waktu, jadi kita harus menunggu dan sabar ketika ingin memperoleh
hasil yang maksmimal.
Dilanjut dengan empat pemateri yang juga ikut
berperan penting dalam penutupan eks lokalisasi Dolly dan 46 titik lokalisasi
yang ada di Jawa Timur.
H.
Sunarto Sholahudin (Owner PT. Berkah Aneka Laut, bendahara umum Masjid anurul
Fattah Surabaya). Beliau berasal dari Gresik. Beliau berpesan kepada mahasiswa
jika menjadi laki-laki harus menjadi pemimpin yang tegas dan beliau
menceritakan tentang perjalanan hidupnya sampai sukses seperti sekarang ini.
Sebelum sukses beliau hanya seseorang yang berasal dari keluarga serba
kekurangan. Beliau mempunyai tekad yang besar dalam meraih kesuksesan untuk
membantu keluarganya. Dengan tekad yang besar membawanya ke Surabaya dengan
melakukan segala hal untuk meraih kesuksesan, dahulu impian beliau adalah
menjadi seorang pengusaha. Jika ingin menjadi orang yang sukses harus adanya
motivasi dari dalam diri, dan yang
paling penting adalah kejujuran yang merupakan modal utama untuk meraih
kesuksesan dengan menjadi seorang pengusaha. Selain takdir dari Allah harus
tetap fokus yaitu dengan kejujuran pasti mendapatkan kesuksesan. Membantu orang
lain dari keterpurukan yaitu menciptakan lapangan pekerjaan itulah prinsip yang
dikatakan oleh Pak Sunarto Sholahudin.
Dr. H. A. Sunarto AS, MEI yang merupakan doktor prostitusi dan
tergabung dalam Ikatan Da’i Lokalisasi (IDEAL) MUI Jawa Timur. Beliau menceritakan tentang perjalanan dakwahnya.
“Dakwah tidak hanya omong doang, tapi juga merubah lokalisasi Surabaya menjadi
kota santri se Jawa Timur. Melakukan dakwah secara individual hasilnya tidak
akan maksimal dan tidak optimal maka dari itu saya membangun jejaring atau
kerjasama yang dinakan dengan dakwah kelembagaan.” ujar beliau dengan suara
lantang. Beliau membentuk Forkemas yang diresmikan pada tahun 2002 dan menjadi ketua Umum dalam Forkemas tersebut.
Pada tahun 1980-2002 melakukan dakwah secara individu dengan metode ceramah di
balai RW sekitar 200 orang WTS (Wanita Tanpa Susila) yang datang. Pada tahun
2002-2010 beliau beserta Forkemas melakukan dakwah secara kelembagaan, untuk
membina para WTS dengan dakwah secara
kelembagaan ada yang mengajak, menyeru, dan memanggil untuk beriman dan taat
kepada Allah.
WTS
melakukan pekerjaan ini karena merupakan pekerjaan yang mudah untuk mendapatkan
uang, Hasil pengamatan beliau, satu orang bisa melayani 15 laki-laki. Sekali
tidur bisa berkisar Rp. 200.000,00 bayangkan itu didapatkan hanya dengan sehari,
berapa jika sebulan?. Sebagai da’i kita harus merubah menset WTS dengan
melewati sentuhan mental dan spiritual (fisik dan rohani) yang memang
membutuhkan proses yang panjang. Beliau berusaha menutup Dolly sekitar 32 tahun
dari tahun 1980-2014. Beliau telah membantu WTS dengan cara diasramakan terlebih
dahulu dan dilatih keterampilanya sesuai keinginan mereka contohnya: menjahit,
merias, dan memasak. Jika mereka berhenti menjadi WTS agar tidak kembali dengan melakukan hal
menjadi seorang WTS lagi. Beliau menggunakan tiga metode dalam berdakwah yang
pertama, yaitu metode Integral dimana dakwah dilakukan secara menyeluruh yaitu
dengan bimbingan fisik dan rohani. Yang kedua, metode persuasif yaitu dengan
pendekatan manusia yang mana kita tidak boleh merendahkan mereka tetapi dengan
cara merangkul mereka. Yang ketiga, yaitu metode Solutif yaitu memberikan
solusi tidak hanya perkataan saha tetapi juga dengan mendapatkan jalan keluar.
Dengan ketiga metode itulah demikian 47 lokalisasi di Jawa Timur ditutup dengan
total. “Tetapi ingat dilakukan dengan kerjasama dengan tim, tidak sendiri.”
ucap beliau.
Pemateri selanjutnya yaitu K.H. Drs. Khoiron Syuaib (Kiai Prostitusi) Ia bercerita tentang peranan
orang-orang dalam eks lokalisasi Gang Dolly. Pertama, yang mempunyai peranan
penting di eks lokalisasi yaitu PSK atau WTS, yang kedua Mucikari atau germo
yang menurut Pak Khoirun kependekan dari “seneng mangan sego, nyambut gawe
emoh”. Mucikari menganggap bahwa PSK adalah daganganya. Seorang PSK yang
berasal dari desa dengan wajah yang tidak terawat dengan baik, mereka akan
dibelikan alat make up dan juga pakaian untuk membenahi dirinya agar
terlihat menawan dihadapan pelangganya. Demo
yang paling banyak pada saat penutupan eks lokalisasi yaitu dari mucikari. Kata
salah satu mucikari tersebut “Pak Ustadz daripada mereka nganggur tak ke’i
penggawean”, yang artinya daripada tidak mempunyai pekerjaan lebih baik menjadi
PSK saja. Selanjutnya yang mempunyai peranan secara formal yaitu ketua RW yang
merupakan tokoh masyarakat, “jika pada saat malam mereka akan mendapat indehoy.”
ujar ustadz Khoiron. Tokoh secara nonformal yaitu preman yang membantu para
mucikari dan melayani pelanggan mereka dengan baik untuk dipilihkan kepada para
PSK. Selanjutnya ada tokoh masyarakat baik yaitu orang yang berdagang disekitar
eks lokalisasi mereka protes jika Dolly tutup karena pasti dagangan mereka
tidak laku. Dakwah beliau melalui metode ceramah di balai RW. Beliau membawa
suasana seorang WTS dalam keadaan gelap menuju
terang benderang. Beliau mengajak orang-orang yang tenggelam dalam kegelapan
selama masih hidup mereka masih mempunyai harapan yang namanya tobat.
“Prostitusi sampai akhir zaman tidak akan selesai selama setan masih hidup
tetapi, yang ada di lokalisasi harus diselesaikan. Jangan hanya berdakwah
dimasjid maupun marasah saja, tetapi jangan lupa bahwa orang-orang yang diluar
itu juga membutuhkan sentuhan kita sebagai da’i.” ujarnya.
H. Gatot Subiantoro Mantan preman namun
sekarang sudah hijrah yang mempunyai prinsip
“Orang miskin gaada habisnya, orang kaya gaada habisnya, tetapi umur kita ada
habisnya.” Dari 47 lokalisasi beliau mengenal semua premannya. Dakwah bisa
dilakukan dimana-mana, tetangga kita masih membutuhkan dakwah kita. Ada
pertanyaan dari salah satu mahasiswi KPI semester dua yaitu, apa motivasi beliau
untuk berhijrah katanya, dan beliau menjawab “tiap hari yang lainya bawa berkatan,
lalu saya diberi dan gara-gara berkat itu lama-lama saya insaf” jawab beliau
dengan tertawa terbahak-bahak yang dapat mencairkan suasana. Beliau pun
ditugaskan menjadi Tim Keamanan Idul Qurban dan juga menjadi ketua dalam acara
17 agustusan, ustadz-ustatdz tidak pernah menyuruh sholat tetapi dengan dakwah
secara halus dan membimbing.“Jika tidak ada ustadz-ustadz ini mungkin saya
tetap mendem (minum-minum), kalau gumbul kiyai dadi kiyai, gumbul malig dadi
maling.” katanya dengan berbicara sambil tertawa.
Kesan Penulis dalam kegiatan Kuliah Lapangan
1.
Hal pertama yang ingin
saya sampaikan ketika pelaksanaan kuliah lapangan ini adalah ucapan syukur
karena dapat menambah semangat dalam menjalani hidup dari inspirasi yang
diberikan melalui pengalaman hidup dari masing-masing narasumber.
2. Dengan kegiatan Kuliah Lapangan ini banyak memberikan informasi dan wawasan kepada penulis mengenai ruang lingkup Gang Dolly, dan seluk beluk Gang
Dolly secara nyata dan langsung terjun lapangan sesuai dengan kondisi
sebenarnya.
3. Memperkaya wawasan yang berkaitan langsung tentang Enterpreneurship bahwa untuk
menjadi seorang penguasaha yang sukses, seperti yang Pak H. Sunarto Sholahudin bahwa selain takdir dari
Allah, kita harus tetap fokus yaitu dengan kejujuran, dengan kejujuran pasti
akan mendapatkan kesuksesan. Membantu orang lain dari keterpurukan yaitu dengan
menciptakan lapangan pekerjaan.
4. berdakwah tidak dilakukan dengan metode ceramah
saja, tetapi bisa dengan berbagai metode sesuai dengan keadaan mitra dakwah.
Contohnya seperti yang dilakukan Ustadz Khoiron kepada pak Gatot, beliau menggunakan
metode pendekatan kepada pak Gatot dengan cara memberi pak Gatot (mantan
preman) berkat yang diperoleh dari sepulang pengajian.
5. Bahwa dalam
menjalani hidup, segala sesuatu itu tidak ada yang instan semua membutuhkan
waktu, jadi kita harus menunggu dan sabar ketika ingin memperoleh hasil yang
maksmimal.
6. Melakukan dakwah secara individual hasilnya tidak
akan maksimal dan tidak optimal maka dari itu kita pintar-pintar dalam membangun
jejaring atau kerjasama yang dinamakan dengan dakwah kelembagaan. dengan dakwah
secara kelembagaan ada yang mengajak, menyeru, dan memanggil untuk beriman dan
taat kepada Allah.


No comments:
Post a Comment